Abdurrahman Bin Auf : Rahasia Pengusaha Sukses Dunia Akhirat

Kamis, 17/03/2016 10:38:31


Sebagai agama yang sempurna dan komplit Islam mengajarkan tata cara hidup yang luar biasa kepada umat yang meyakininya, tidak hanya masalah orientasi akhirat saja, tapi urusan dunia juga diajarkannya, karena itulah tak sedikit orang-orang Islam yang taat yang juga sukses dalam urusan dunianya.

Kita bisa melihat sejarah bagaimana kesuksesan sahabat-sahabat Nabi dalam hal urusan dunia, mereka disamping dikenal sebagai sahabat-sahabat yang alim, arif, dan termasuk golongan yang ahli surga, mereka juga dikenal sebagai sahabat-sahabat yang memiliki kekayaan luar biasa, seperti halnya Abu Bakar, Umar, Ustman dan terakhir yang dikenal sebagai Sang Konglomerat Islam yaitu Abdurrahman Bin Auf.

Sahabat yang terakhir ini memang luar biasa, Abdurrahman bin Auf berasal dari Bani Zuhrah,ia berkerabat dengan Usman bin Affan dan Sa’ad bin Waqqas. Dan dia termasuk golongan orang-orang yang masuk Islam pada masa-masa dakwah Rasulullah. Karena itulah karena keimanan dan ketaqwaannya, ketika Rasulullah diperintah hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf rela meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah dan mengikuti Rasulullah.

Di Madinah, ia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi yang juga meruapakan salah satu saudagar kaya di Madinah, Namun ketika Sa’ad ingin memberikan harta kepada Abdurrahman bin Auf, ia malah bertanya”Tunjukkan saja kapadaku dimana letak pasar di sini?” ucap Abdurrahman bin Auf. Sa’ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana.

Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Saya ingin menikah, ya Rasulullah,” katanya. “Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?” tanya Rasul SAW. “Emas seberat biji kurma,” jawabnya. Rasulullah bersabda, “Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu.” Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki ‘Sahabat Bertangan Emas’.

Sajak saat itulah, kekayaan Abdurrahman bin Auf bertambah dan terus bertambah namun ia tak pernah menikmati hartanya sendirian, ia juga dikenal sebagai sahabat yang sangat dermawan yang dengan penuh keyakinan senantiasa menafkahkan hartanya di jalan Allah. Bahkan suatu ketika ia menyerahkan hampir seluruh harta kekayaannya untuk biaya perang umat Islam, hingga para sahabat yang lainnya kaget dan kagum.

Jika diukur dengan kurs rupiah menurut beberapa kalangan jumlah aset kekayaan Abdurrahman bin Auf diperkirakan melebihi 2.560.000 dinar atau setara dengan Rp. 3,2 Trilyun saat ini. Dan itu belum termasuk aset properti dan aset lainnya yang ia miliki. Dan bahkan menurut beberapa pendapat mengatakan bahwa keempat istri Abdurrahman bin Auf mendapatkan ganti hak waris sebesar 80.000 dinar ( Rp 100 milyar) peristri, sehingga total ganti waris untuk keempat istrinya adalah Rp 400 Milyar. Nah, sesuai dengan hukum waris ( melalui pendekatan perkiraan ) bahwa jatah waris istri-istri adalah seperdelapan dari total warisan. Itu berarti angka Rp 400 Milyar baru seperdelapan kekayaan total beliau. Sehingga asumsi minimalnya, kekayaan warisan beliau totalnya adalah Rp 400 M x 8 = Rp 3,2 Trilyun.

Lalu bagaimana bisa Abdurrahman Bin Auf mendapatkan kesuksesan besar semacam itu? Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.

Menggantungkan Diri Pada Allah

Ketika Abdurrahman bin Auf ditawari harta benda oleh saudara angkatnya, beliau berani menolak dan mau memulai usaha sendiri. Hal ini merupakan salah satu sikap Abdurrahman Bin Auf yang tidak ingin tergantung pada orang lain. Dia menggantungkan dirinya hanya kepada Allah, karena itulah ia mau dan berani memulai usaha sendiri.

Dan bahkan dengan penuh keyakinan ia juga pernah berucap “Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak !” ungkapant tersebut merupakan salah satu sikap yang ditunjukkan oleh Abdurrahman Bin Auf bahwa Allah akan senantiasa membantunya dan dia senantiasa berprasangka baik terhadap Allah sehingga apapun yang ia usahakan pasti mendapatkan hasil yang baik pula.

Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah yang menyatakan dalam sebuah hadist qudsi yang berarti :

Dari Abu Hurairah ra. Berkata, bersabda Rasulullah saw. : Allah berfirman : “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku; jika ia mengingat-Ku dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku dalam lintasan pikirannya, niscaya Aku akan mengingat-Nya dalam pikirannya kebaikan darinya (amal-amalnya); dan jika ia mendekat kepada-ku setapak, maka aku akan mendekatkannya kepada-Ku sehasta; jika ia mendekat kepada-ku sehasta, maka aku akan mendekatkannya kepada-ku sedepa; dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berlari.(Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

Meskipun hidupnya berkelimpahan harta dan kekayaan, itu tidak membuatnya lupa akan akhirat. Bahkan kecintaanya kepada akhirat semakin kuat dan membara. Abdurrahman bin Auf seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan harta yang mengendalikannya. Jiwa dan raganya telah diserahkan sepenuhnya untuk Allah. Begitulah Abdurrahman Bin Auf senantiasa memadukan antara kepentingan dunia dan akhirat dalam naungan cinta dan ridha Allah.

Mencari Harta Yang Halal

Walaupun Abdurrahman bin Auf memiliki banyak harta, namun ia mendapatkan semuanya dengan cara-cara yang halal. Ia bekerja dengan jujur dan profesional, karena itulah hartanya serpeti tak pernah habis dan terus melimpah. Ia senantiasa menghindari praktek-praktek riba dan haram dalam berniaga.

Karena itulah Ustman bin Affan  yang sudah sangat kayapun bersedia menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 Dinar bagi setiap veteran perang Badar. Atas pembagian ini Ustman bin Affan berkata, “ Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkat”.

Bersikap Dermawan

Harta yang melimpah tidak membuat Abdurrahman bin Auf lupa pada orang-orang yang membutuhkannya. Ia dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, hingga banyak para sahabat tercengang atas kedermawanannya. Bahkan ia pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Dan bahkan menurut beberapa pakar sejarah ia juga pernah bersedekah dengan jumlah 40,000 Dirham (sekitar Rp 1.4 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (sekarang senilai +/- Rp 50 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda, dan 1,500 ekor unta.

Beliau juga menyantuni para veteran perang badar yang masih hidup waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (sekitar Rp 500 juta) per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang. “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka,” begitulah pendapat beberapa orang madinah ketika itu.

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat contoh konkrit yang telah ditunjukkan oleh sejarah tentang bagimana keimanan dan ketaqwaan seseorang ternyata juga mampu memberikan kesuksesan kepada kita dunia dan akhirat. Ini adalah bentuk ikhtiar dan keimanan kita bahwa kita didunia harus senantiasa berusaha untuk mencari harta sebagai ma’isyah (pemenuhan kebutuhan hidup) namun tidak harus sampai pada hubbun dunya (cinta dunia). Karena harta itu adalah titipan, amanah dan ujian dari Allah untuk mengetahui siapa diantara kita yang paling bertaqwa kepadaNya. “Inna Akramakun ‘Indallahi Atqaakum”. ij (disunting dari berbagai sumber)